Jangan Berlebihan Menanggapi Kesalahan Anak

Ibu dan Anak - Kompas Female
http://4skripsi.blogspot.com/
Jangan Berlebihan Menanggapi Kesalahan Anak
Jun 17th 2013, 14:04

KOMPAS.com - Berbuat kesalahan adalah bagian dari perjalanan hidup dan aktivitas keseharian setiap orang, termasuk anak usia 3-5. Jadi, tak usah berlebihan menanggapi kesalahan anak, apalagi melibatkan emosi.

Yang perlu orangtua lakukan adalah membimbing anak untuk dapat mengetahui kesalahan atau permasalahannya, juga melatih anak untuk mempertimbangkan perilakunya terutama yang berkaitan dengan orang lain.

Untuk memunculkan perilaku ini, sejak dini orangtua perlu secara konsisten mengenalkan pada norma dan aturan yang berlaku dalam lingkungan sosial. Contoh, ketika menyusu ia menggigit puting susu dengan keras, maka ibu perlu memberitahunya bahwa itu menyakitinya. Jangan menganggap bayi tak memahami, ia bisa paham lewat ekspresi, intonasi, juga keterkejutan Anda. Lambat laun ia akan paham, menyakiti orang lain tak boleh dilakukan.

Seiring pertambahan usianya, anak akan mengembangkan kemampuan moralnya lewat pengamatan ke lingkungan di sekitarnya. Dari situ ia akan menyadari norma moral dari apa yang terjadi, kemudian ia juga akan memahami hubungan sebab-akibat. Dari sini anak akan belajar mengenai moral.

Jadi, lakukan dengan tenang dan tidak melibatkan emosi. Terimalah bila anak ketakutan dan kemudian menangis.Tenangkan dulu, baru lanjutkan kembali diskusi untuk menyelesaikan konflik atau masalah yang terjadi. Tujuan akhirnya adalah anak meminta maaf atas kesalahan yang sudah diperbuat dan mengingat bahwa perilaku tersebut tidak diterima atau tidak menyenangkan bagi orang lain.

Tetaplah fokus pada perilaku dan sebab akibat. Beri kesempatan pada anak untuk mengemukakan alasan atau pendapatnya terhadap suatu perilaku. Kemudian minta anak memikirkan dampaknya terhadap orang lain dan menyampaikan apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki perilakunya.

Tak kalah penting, sikap dan perilaku mengakui kesalahan ini harus ditunjukkan orangtua, pengasuh, guru, atau pun orang lain di depan anak. Anak belajar dari mencontoh. Bila Anda mudah mengucapkan maaf, hal ini akan mudah dan terbiasa dilakukan anak.

Tentu tak hanya mengatakan "maaf", anak juga harus bisa memahami kesalahan dan tidak mengulanginya lagi. Selain itu orangtua juga perlu menstimulasi aturan dan disiplin yang diterapkan oleh lingkungan rumah, sekolah, dan sosial untuk meminimalisasi kesalahan anak.

(Tabloid Nakita/Irfan Hasuki)

Editor :

wawa

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Next Post Previous Post