Peningkatan pada Kebijakan Privasi dan Kontrol Privasi

iklan1
Google
Updating Our Privacy Policy
Bulan ini, kami memperbarui Kebijakan Privasi untuk memudahkan Anda memahami apa saja informasi yang kami kumpulkan beserta alasannya. Kami juga mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan Pemeriksaan Privasi dan kontrol lain yang kami sediakan untuk mengamankan data dan melindungi privasi Anda.
Tidak ada yang berubah pada setelan saat ini atau cara pemrosesan informasi Anda. Kami hanya mengubah cara kami mendeskripsikan praktik kami dan cara kami menejelaskan opsi yang Anda miliki untuk memperbarui, mengelola, mengekspor, dan menghapus data.
Kami membuat pembaruan ini karena diterapkannya peraturan perlindungan data yang baru di Uni Eropa, dan menggunakan peluang ini untuk melakukan peningkatan kualitas bagi pengguna Google di seluruh dunia.
Kebijakan Privasi dibuat lebih mudah dipahami
Struktur lebih sederhana & bahasa lebih jelas
Kami memperbaiki navigasi dan susunan kebijakan untuk mempermudah Anda dalam menemukan hal yang dicari. Kami juga menjelaskan praktik kami secara lebih detail dan dengan bahasa yang lebih jelas.
Video & ilustrasi deskriptif baru
Sering kali penjelasan visual lebih mudah dipahami daripada teks saja, jadi kami telah menambahkan video dan ilustrasi singkat di seluruh kebijakan.
Kontrol privasi tersemat
Kami telah mempermudah proses untuk langsung membuka setelan utama dari kebijakan, sehingga membantu Anda dalam membuat pilihan terkait privasi.
Revisi kebijakan tersedia di sini dan akan berlaku pada tanggal 25 Mei 2018.
Meningkatkan kontrol privasi Anda
Dalam setahun terakhir, kami telah memperbarui Aktivitas Saya agar Anda dapat mengakses dan mengelola data di Akun Google dengan lebih baik. Kami juga telah meluncurkan Dasbor yang didesain ulang, sehingga Anda dapat melihat ringkasan produk yang sedang digunakan serta data yang terkait dengan lebih baik.
Bulan ini, kami telah memperbarui Pemeriksaan Privasi dengan ilustrasi dan contoh baru untuk membantu Anda mengambil keputusan yang lebih baik tentang kontrol privasi utama. Dan karena kami memahami bahwa preferensi Anda mungkin berubah seiring waktu, Pemeriksaan Privasi yang baru memungkinkan Anda mendaftar ke pengingat rutin untuk memeriksa setelan privasi.
Untuk mempelajari lebih lanjut hal ini dan kontrol lainnya untuk mengelola privasi, kunjungi Akun Google Anda.
lihat artikel selengkapnya - Peningkatan pada Kebijakan Privasi dan Kontrol Privasi
iklan2

Blogtrottr account password reset request

iklan1
To reset your password, please click on the following link within 24 hours:

https://blogtrottr.com/password_reset/viarcalea%40gmail.com/c5dd190225c9874fa28ed899601b2838f1948ed0


If you weren't expecting to receive this email, then simply ignore it and we'll go away.
lihat artikel selengkapnya - Blogtrottr account password reset request
iklan2

Penderita Bipolar Biasanya "Pintar" ?

iklan1
Psikologi - Kompas
http://4skripsi.blogspot.com/ 
Learn to create beautiful cakes from your kitchen.

Whether you are doing this for fun or to start a new business, this course provides the simple techniques needed to decorate a cake like a pro.
From our sponsors
Penderita Bipolar Biasanya "Pintar" ?
Oct 8th 2013, 13:22


KOMPAS.com
- Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda satu dengan yang lain. Kelebihan juga berlaku pada penderita gangguan bipolar. Beberapa tokoh dunia dikenal sebagai penderita gangguan bipolar karena keunggulannya masing-masing seperti aktris Sinead O' Connor, aktor Jim Carrey hingga novelis Sidney Sheldon.

Menanggapi kelebihan ini, psikiater dr. Nurmiati Amir Sp.KJ (K) mengatakan, penderita gangguan bipolar memang punya kecenderungan pintar. "Penderita bipolar memiliki episode yang disebut hipomanik. Saat inilah biasanya dia menjadi lebih pintar," katanya.

Episode hipomanik, kata Nurmiati, merupakan rangkaian episode pada gangguan bipolar seperti halnya manik dan depresi. Rangkaian episode ini merupakan gangguan mood yang menjadi ciri khas penderita bipolar. Rangkaian episode terus berganti setiap harinya dengan durasi yang berbeda pada setiap penderita.

Episode hipomanik ditandai dengan kreativitas yang luar biasa, bahkan terlihat berlebihan dibanding orang lain pada umumya. Namun ide kreatif ini masih dapat diwujudkan dan realistis kendati di luar kebiasaan. Hal ini bertolak belakang dengan episode manik yang ditandai munculnya ide yang sangat tidak realistias dan berlebihan. Episode manik bahkan menyebabkan penderitanya merasa bangga diri.

"Hipomanik masih dalam tahap kewajaran. Sedangkan manik sangat berlebihan hingga penderita tampak berlimpah energi, sampai merasa tidak perlu tidur," kata Nurmiati. Hipomanik sendiri merupakan episode khas bipolar tipe 2.

Gangguan bipolar tipe 2 umumnya muncul pada usia 15-24 tahun. Sayangnya, orangtua dan lingkungan umumnya luput memperhatikan gejala ini. Hal ini dikarenakan orangtua dan lingkungan kerap merasa penderita memang pintar. Jika penderita sedang tidak dalam episode hipomanik, maka keadaan tersebut dianggap biasa saja.

"Siapa yang tidak bangga bila punya anggota keluarga pintar? Kalaupun kemudian diketahui, beberapa penderita dan anggota keluarga menolak pengobatan karena merasa baik-baik saja. Padahal bila ditangani sejak dini, kemungkinan untuk pulih semakin besar," ungkap Nurmiati.

Diagnosa pada usia muda juga memudahkan deteksi bipolar, dibanding pada usia tua yang kerap serupa dengan skizofrenia atau depresi unipolar. Hal ini dikarenakan, gangguan bipolar tidak mempengaruhi kemampuan kogitif sehingga seseorang masih bisa berprestasi. Kondisi ini jelas berbeda dengan gangguan skizofrenia.

"Penderita skizofrenia akan mengalami penurunan kemampuan kognitif, hingga akhirnya tidak melanjutkan pendidikan. Sementara penderita bipolar masih bisa berkreasi," ujar Nurmiati.

Penanganan sedini mungkin, kata Nurmiati, mencegah kekambuhan semakin kerap terjadi. Sehingga penderita bisa lebih nyaman dan menjaga kualitas hidupnya. Tentunya pengobatan ini harus didukung lingkungan dan keluarga, yang menyediakan suasana kondusif bagi kesembuhan penderita.

"Karena itu perhatikanlah anggota keluarga dekat yang seolah memiliki loncatan mood. Jangan merasa baik-baik saja hanya karena dia pintar atau kreatif. Penaganan sejak dini usia muda sekaligus menutup kemungkinan perubahan tipe menjadi bipolar 2 hingga mixed type saat usia tua," tandas Nurmiati.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
lihat artikel selengkapnya - Penderita Bipolar Biasanya "Pintar" ?
iklan2

Seberapa Efektif Yoga Tangkal Depresi?

iklan1
Alternatif - Kompas
http://4skripsi.blogspot.com/ 
Mobile Game Development Course

Learn how to create awesome HTML5 games that run on iPhone, iPad, Android and Desktop! Sign up today for this $99 online course.
From our sponsors
Seberapa Efektif Yoga Tangkal Depresi?
Oct 7th 2013, 14:09


KOMPAS.com - Yoga merupakan olahraga yang sudah lama dikenal sebagai penangkal stres dan depresi. Bahkan sudah banyak penelitian yang dilakukan guna mendukung pernyataan tersebut.

Salah satu penelitian yang membuktikan kaitan yoga dengan stres yaitu yang dilaporkan dalam jurnal Medical Hypotheses. Penelitian tersebut menemukan pengaruh yoga terhadap otak yang berperan dalam pembentukan stres. Stres diketahui sebagai pemicu utama dari depresi.

"Yoga memang menurunkan stres karena gerakan-gerakan yoga ternyata bisa memperbaiki ketidaseimbangan sistem saraf," kata ketua peneliti Dr.Chris Streeter, profesor psikiatri dari Boston University School of Medicine.

Para peneliti percaya, saat seseorang mengalami stres, terjadi ketidakseimbangan di area otak. Gangguan keseimbangan itu termasuk rendahnya aktivitas di area otak yang disebut gamma amino-butyric acid (GABA). Ketidaktifan GABA ini juga ditemui pada penderita epilepsi, nyeri kronik, depresi dan kecemasan.

Sementara itu, dr Dharmawan Ardi Purnama, SpKJ, psikiater dari Rumah Sakit Jiwa dr Soeharto Heerdjan mengatakan, yoga mampu mengatasi depresi karena olahraga tersebut membantu pelakunya untuk fokus pada diri sendiri.

"Prinsipnya mungkin bisa seperti latihan mindfulness, yang tujuannya melatih supaya lebih aware pada diri sendiri dan lingkungan," katanya di sela-sela seminar kesehatan jiwa, akhir pekan lalu di Tangerang.

Menurut Dharmawan, untuk mencegah depresi, seseorang juga perlu meninggalkan kebiasaan menilai negatif terhadap segala sesuatu. Meskipun, secara alamiah manusia cenderung  menilai negatif, namun perlu melatih diri untuk mengubahnya.

Dalam kesempatan yang sama, dr Elly Inkiriwang, SpKJ dari Fakultas Kedokteran Ukrida mengatakan, depresi dapat dihindari jika seseorang dapat belajar menerima kenyataan ketidakadilan dalam hidupnya.

"Sikap tidak adil dan tidak baik sebagai imbalan terhadap usaha baik Anda lebih merupakan hukum ketimbang pengecualian," tegasnya.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
lihat artikel selengkapnya - Seberapa Efektif Yoga Tangkal Depresi?
iklan2

6 Variasi Menu Nasi dan Kacang Merah

iklan1
Dapur - Kompas Female
http://4skripsi.blogspot.com/ 
Save on Car Insurance

We're here to make buying car insurance awesome and easy. We're here to guide you towards a better policy that keeps those Benjamins in your pocket.
From our sponsors
6 Variasi Menu Nasi dan Kacang Merah
Oct 7th 2013, 12:56

 

KOMPAS.com - Pernah membayangkan sup dengan nasi dan kacang merah sebagai bahan utamanya? Kacang merah dapat menjadi kudapan yang rasanya tidak cuma lezat tapi juga menyehatkan. Berikut enam  resep dengan bahan utama nasi dan kacang merah yang menarik untuk dirasakan enaknya.

1. Menu ini datang dari PeruDelights, yang dikelola Morena Escardo. Disebutkan kalau di Peru, nasi dan kacang merah biasa dihidangkan dengan daging. Namun karena dia tidak memakan daging sejak usia empat tahun, menunya diganti menjadi vegetarian. Morena Escardo menghidangkan menu sup dengan nasi, dan kacang merah yang kemudian ditambahkan alpukat, keju dan tortilla.

2. Maria Sacasa dari CookinandShooting menghadirkan menu sarapan ala Nikaragua. Nasi dan kacang merah digoreng bersama sampai berwana merah burgundy.

3. Nama menunya La Bandera Dominicana. Clara Gonzalez dari DominicanCooking mengatakan di negaranya hampir tiada hari tanpa menu utama ini. Walaupun daging dan sayur selalu berganti setiap hari, menu dengan nasi dan kacang merah selalu ada. Salah satu favoritnya adalah concon, nasi yang dihidangkan dengan kuah yang di dalamnya ada kacangmerah. Bisa dihidangkan dengan tambahan daging ayam goreng, dan irisan tomat.

4. Lesley Tellez dari TheMijaChronicles juga menghadirkan menu nasi degan campuran beras merah yang dimasak dengan sedikit air, lalu ditambahkan dengan jagung tortillas saat dihidangkan. '

5. Ericka Sanchez dari NibblesandFeasts, mengungkapkan kalau dia dan keluarganya hampir tidak pernah melewatkan nasi dan kacang merah setiap hari. Salah satu favoritnya adalah Nopales Rellenos, yakni nasi dan kacang merah yang digulung dan dicampur dengan irisan tomat.

6. Frijoles untuk makan malam. Vianney Rodriguez dari SweetLifeBake mengatakan kalau dirinya bertumbuh dengan menu campuran nasi dan beras merah yang disebut frijoles sebagai menu favorit. Seperti sup, campuran nasi dan kacang merah ini dihidangkan dengan sedikit air atau campuran kuah sayur.

Sumber :

Penulis :

Rahman Indra

Editor :

Lusia Kus Anna

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
lihat artikel selengkapnya - 6 Variasi Menu Nasi dan Kacang Merah
iklan2

Tanpa Bermain, Anak Kehilangan Momen Belajar

iklan1
Psikologi - Kompas
http://4skripsi.blogspot.com/ 
Learn Adobe Illustrator CS6 Master Techniques from an Adobe Guru!

With over 25 years of experience teaching, Robert Farrell has been a trusted instructor for individuals and companies who want to improve their Adobe skills.
From our sponsors
Tanpa Bermain, Anak Kehilangan Momen Belajar
Oct 7th 2013, 08:59


KOMPAS.com
- Orangtua memiliki tugas menyediakan lingkungan belajar untuk anak, dan mendampinginya, tak terkecuali untuk anak balita. Jangan bayangkan anak balita belajar membaca, menulis, menghitung.

Momen belajar balita adalah untuk optimalisasi kognitif, psikomotorik, dan sosial emosi. Caranya, fasilitasi anak untuk berinteraksi dengan beragam permainan fisik, baik bermain sendiri maupun bersama anak lain seusianya.

Menurut psikolog dari Rumah Sakit Ibu Anak Brawijaya, Rika Ermasari, S.Psi, Ct, CHt, anak akan kehilangan momen belajar jika tidak mendapatkan fasilitas dan pendampingan  berbagai permainan fisik. 

Pola 'belajar' yang diterapkan oleh orang tua sebagai lingkungan pertama bagi anak akan berpengaruh pada perkembangan anak ditahap selanjutnya. Sebagai contoh, Anna berusia 4,5 tahun mengalami kesulitan dalam memasukkan sendok ke mulutnya, padahal di sekolahnya diharuskan membawa makanan dan ada kegiatan makan bersama teman-temannya.

Anna menjadi enggan ke sekolah karena sering diejek temannya. Atau Adya (3 tahun) mengalami kesulitan dalam bermain bersama temannya setiap kali dibawa ke tempat bermain selalu berakhir dengan pertengkaran dengan temannya. Akibatnya Adya tidak punya teman dan kehilangan antusias untuk bermain bersama. Masalah yang dialami Anna dan Adya ini bisa dihindari dengan pendampingan tepat orangtua pada anak balita lewat kegiatan bermain.

"Bermain punya peran penting. Anak berbagi rasa. Lewat permainan juga akan muncul rasa berbagi dan sosial. Anak-anak juga suka ekspresi wajah, dan ini bisa didapatkan dari bermain termasuk bersama kedua orangtuanya. Anak usia 12-24 bulan juga bisa marah, dan ia belajar sosial emosi saat bermain," terangnya saat talkshow kesehatan anak di Jakarta beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan bermain punya banyak manfaat di antaranya:
* Membantu mengerti tentang lingkungan sekitar.
* Mendorong anak untuk belajar memecahkan masalah.
* Membantu anak mengembangkan kreativitas.
* Mengembangkan kemampuan sosialisasi dan komunikasi pada anak.
* Meningkatkan kesehatan tubuh.

Bermain juga ada tahapannya sesuai usia. Pada usia 1-2 tahun, anak menjalani tahapan Functional Play, yaitu anak belajar menggunakan benda sesuai kegunaan. Misalnya menggunakan spons untuk membersihkan meja.

Sementara pada usia 2-3 tahun, anak menjalani Constructive Play, yakni anak mulai membuat sesuatu yang kreatif. Misal menggunakan bantal guling sebagai terowongan atau membangun boks menjadi rumah.

Serta pada usia 3-4 tahun, anak mulai melakukan Dramatic Play atau Cooperative Play yaitu pada saat bermain bersama anak lain. Anak mulai bermain peran sebagai dokter, perawat, juru masak, dan sebagainya termasuk bermain bersama dengan teman sebayanya.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
lihat artikel selengkapnya - Tanpa Bermain, Anak Kehilangan Momen Belajar
iklan2

Perceraian Berakibat Buruk bagi Kesehatan Pria

iklan1
Psikologi - Kompas
http://4skripsi.blogspot.com/ 
Refresh your vocabulary.

Learn a new word everyday by subscribing to Word of the Day. A great tool if you're studying for the GRE, GMAT or LSAT, or simply want to enhance your lexicon.
From our sponsors
Perceraian Berakibat Buruk bagi Kesehatan Pria
Oct 6th 2013, 21:15


KOMPAS.com - Perceraian ternyata tak hanya berefek buruk bagi kesehatan mental dan emosi, tapi juga fisik seseorang. Kondisi ini tidak cuma rentan dialami wanita, tapi juga pria.

Sebuah riset di Amerika mengatakan, pria yang hidup single atau mengalami perceraian, berpeluang 39 persen lebih tinggi mengalami kematian dini. Angka ini dibandingkan dengan pria yang ada dalam ikatan pernikahan.

Kondisi ini mungkin disebabkan pria yang hidup single lebih berpeluang menjalankan gaya hidup atau perilaku seks berisiko. Perilaku ini lambat laun mengancam kesehatan fisik dan mentalnya.
 
Sebuah studi kasus oleh Dr. Daniel Felix dari University of Nebraska dan dimuat dalam Journal of Men's Health mengungkapkan pentingnya para dokter untuk mengenali problem kesehatan kaum pria yang dipicu oleh perceraian.

Riset ini merupakan kajian terhadap kasus yang dialami seorang responden pria berkulit putih usia 45 tahun yang bertahan dari perceraian.

Setelah perceraian, pria ini mengunjungi dokter keluarga setelah 10 tahun tidak memeriksakan diri. Ia datang dengan keluhan pola tidur buruk, dan masalah perut yang tidak kunjung tuntas. Pria ini juga melaporkan keranjingan minum bir dan mulai membenci pekerjaannya. Sebagai karyawan level menengah di sebuah bank lokal, pria ini mulai terganggu dengan atasan dan teman-temannya.

Sehubungan dengan perceraian yang dialami, pria ini juga melaporkan keterbatasan akses yang dialami dalam menemui anak-anaknya. Padahal, ia  sangat membutuhkan dukungan anak-anaknya. Pria ini juga mengeluhkan mantan istrinya yang seolah menjauhkan ia dari semua teman-teman yang dimiliki saat masih menjadi pasangan.

Peneliti melaporkan, kondisi fisik pria ini tampak biasa saja meski pun ia mengalami sedikit pembengkakan pada liver dan tubuhnya yang kegemukan.  Namun sebaliknya, peneliti mengaitkan kondisi penyakit yang dialami pria ini dengan gejala depresi yang berlanjut dengan kecemasan dan stres akibat perceraian.

Peneliti menyarankan para dokter untuk melakukan pengobatan pada gejala-gejala psikologis akibat perceraian, dan bukannya merekomendasikan perbaikan nutrisi, olahraga, dan pola tidur. Para pria korban perceraian juga wajib mengikuti program terapi kecanduan alkohol dan zat terlarang. Selain itu, mereka juga harus mendapat rujukan dari tenaga medis untuk berobat para konselor, profesional kesehatan jiwa, atau kelompok dukungan perceraian.

Peneliti menyarankan perlunya penelitian lebih lanjut guna melihat dampak perceraian bagi kesehatan pria. Professor Ridwan Shabsigh dari Cornell University, Amerika Serikat mengatakan, temuan ini menjadi dasar penyusunan diagnosa dan panduan terapi kesehatan bagi para pria korban perceraian.

Riset ini sekaligus membuka sisi lain pria, yang sering dikesankan sebagai sosok kuat, tabah, dan lebih kebal pada trauma dibanding wanita.

"Faktanya, pria sangat terpengaruh dengan trauma psikologis dan peristiwa buruk dalam kehidupan seperti perceraian, kebangkrutan, perang, dan kematian. Penelitian segera sangat dibutuhkan untuk menyelidiki prevelensi dan dampak perceraian bagi kesehatan pria," kata Shabsigh yang juga Presiden International Society of Men's Health.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
lihat artikel selengkapnya - Perceraian Berakibat Buruk bagi Kesehatan Pria
iklan2

KOTAK PENCARIAN:

Artikel Keseluruhan

ads1